Lynx menarik napas panjang saat melihat kelopak mata Lala mulai bergetar pelan. Jari-jari tangannya mulai bergerak-gerak, menandakan bahwa kesadarannya mulai kembali.

Langkah ringan terdengar di belakangnya, Jelita mendekat dengan wajah penuh harap. "Bagaimana, Kepala Suku? Apa Lala akan baik-baik saja?" tanyanya pelan, nyaris berbisik.

Lynx mengangguk, matanya masih tertuju pada wajah Lala. "Lihat saja sendiri. Tidak lama lagi dia akan bangun."

Dan benar saja, hanya beberapa detik setelah itu, mata Lala terbuka perlahan. Pandangannya kosong sejenak, mencoba menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya, lalu tubuhnya yang semula kaku mulai bergerak perlahan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, hingga akhirnya melihat sosok Lynx yang duduk di sampingnya.

Dengan gerakan mendadak, Lala langsung bangkit dan memeluk Lynx erat. Tubuhnya bergetar dan air mata mengalir deras dari sudut matanya. Tangisannya pecah dalam pelukan pria yang selama ini ia rindukan. "Apakah aku sedang bermimpi? Lynx... ini benar-benar kamu? Bukan bayangan yang dibuat pikiranku?"

Lynx tak berkata banyak. Ia hanya membalas pelukan itu dengan penuh kehangatan, membiarkan Lala melampiaskan perasaannya. Tangan besarnya mengusap lembut rambut Lala, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Kamu aman sekarang. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi," ucap Lynx lembut di dekat telinganya.

Setelah beberapa saat tangis Lala mereda, kesadarannya perlahan kembali penuh. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya masih menempel pada Lynx. Dengan wajah memerah, ia buru-buru menjauh dan mendorong dada Lynx pelan. "Jangan lihat aku..."

Seketika ia bangkit dan berlari kecil menjauh, menutupi wajahnya yang merah padam. Ia tak sanggup menatap pria yang diam-diam selalu mengisi hatinya. Tanpa pikir panjang, ia menuju ke arah tangga yang menuju lantai dua pagoda.

Namun Lala belum menyadari dimana dia berada, pagoda Qingling bukan tempat biasa. Anak tangga itu adalah formasi spiritual yang hanya bisa diakses ketika seseorang benar-benar siap secara fisik dan mental. Begitu kakinya menyentuh pijakan pertama, sebuah dorongan lembut tapi kuat melontarkannya ke udara.

Dalam sekejap, Lynx melesat, menangkap tubuh Lala sebelum ia terlempar lebih jauh. Dengan satu tangan di punggung dan satu lagi menyangga kakinya, ia menurunkan Lala perlahan ke tanah.

"Kamu baik-baik saja?" tanyanya lembut sambil menatap mata Lala yang sedikit terkejut. "Tangga menuju atas belum bisa kamu lewati sekarang. Tenanglah dulu."

Lala mengangguk pelan, lalu menatap sekeliling. Baru kali ini ia menyadari tempat di mana ia berada. "Lynx... ini... Bukankah ini Pagoda Qingling? Tapi... bagaimana aku bisa sampai di sini?"

Ia menatap wajah Lynx yang tenang, namun tak menunggu jawabannya. Begitu melihat Jelita berdiri tak jauh dari situ, ia langsung berlari dan memeluknya erat. "Jelita! Syukurlah kamu selamat... Aku benar-benar khawatir."

Jelita membalas pelukan itu sambil menangis, air matanya tumpah seketika. "Terima kasih, Lala... Karena kamu menolongku, kamu sendiri jadi ditangkap oleh mereka. Maaf..."

Lala menggelengkan kepala, masih memeluk Jelita. Tapi tiba-tiba, ia mengingat seseorang. Tatapannya berubah serius. "Kael... bagaimana dengan Kael?" tanyanya cemas.

Jelita menunduk, tak menjawab karena dia kehilangan kabar Kael beserta yang lainnya. Ia hanya melirik ke arah Lynx dengan raut sedih.

Lala menangkap isyarat itu. Ia segera memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah Lynx. "Lynx, katakan yang sebenarnya. Bagaimana keadaan Kael? Jangan diam saja..."

Lynx terdiam. Wajahnya tampak bingung dan berat, seolah sedang memilih kata yang tepat. "Lala... tenanglah dulu. Semuanya baik-baik saja. Tapi..."

"Tapi apa, Lynx?" desak Lala. Nada suaranya mengeras, mencampurkan kecemasan dan rasa takut yang mendalam. Jelita yang berdiri di sampingnya ikut menatap Lynx, menggenggam tangan Isha erat. Jantungnya ikut berdetak cepat.

Lynx menghela napas. "Aku akan jelaskan nanti... di sebuah tempat diluar pagoda ini. Sekarang karena kamu sudah sadar, lebih baik kita tinggalkan tempat ini dulu. Di rumah nanti, kita bahas semuanya. Apa kamu tahu cara keluar dari tempat ini?"

Lala menganggukkan kepalanya. Dia sudah pernah diberitahu bagaimana cara menggunakan pagoda Qingling ini.

Melihat jawaban Lala, tubuh Lynx lenyap dalam sekejap, keluar dari Pagoda Qingling.

Lala menoleh ke arah Jelita. Jelita menggenggam tangan Isha dengan lembut, dan bersama-sama mereka menyusul mengikuti jejak Lynx, meninggalkan Pagoda Qingling yang kembali hening seperti semula.

Dalam sekejap, tiga sosok itu muncul di tengah hutan yang sunyi. Langit telah berganti warna menjadi kelam, hanya dihiasi taburan bintang dan cahaya bulan yang menyelinap di balik ranting pepohonan. Udara malam yang lembap dan menusuk membuat dedaunan bergoyang perlahan diterpa angin.

Isha yang tubuhnya lemah sebagai manusia biasa langsung menggigil. Ia merapatkan kedua tangan ke dadanya, wajahnya pucat menahan dingin. Tubuh kecilnya tampak bergetar, dan napasnya mulai memburu.

Lynx segera melirik ke arahnya. Tanpa banyak bicara, ia berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke punggung Isha. Dalam hitungan detik, aliran hangat energi spiritualnya meresap lembut ke tubuh kecil itu, menyelimuti Isha bagaikan selimut tak kasat mata.

Melihat kejadian itu, Lala mengerutkan dahi. Ia menatap Isha lalu kembali pada Lynx. Suaranya terdengar cemas, bahkan sedikit panik. "Siapa dia, Lynx? Jangan bilang... dia anakmu dan Leena? Apa aku sudah tidak sadarkan diri selama bertahun-tahun?"

Wajahnya mulai memucat, dan nada suaranya meninggi tanpa sadar.

Jelita segera menenangkan Lala dengan suara lembut namun meyakinkan. "Tenanglah, Lala. Dia bukan anak Kepala Suku kita. Bukan seperti yang kamu pikirkan."

Lynx hanya mengangguk dan menambahkan cepat, "Panjang ceritanya. Nanti kita bahas semua. Sekarang ikut aku dulu."

Tanpa membiarkan pertanyaan berlanjut, Lynx membungkuk dan menggendong Isha di punggungnya. Gadis kecil itu tidak melawan. Ia memeluk leher Lynx erat sambil tersenyum kecil, wajahnya tampak senang bisa berada dekat dengan sosok yang membuatnya merasa aman.

Lala dan Jelita saling pandang sesaat, lalu segera berlari mengejar di belakang Lynx yang melesat cepat menembus lebatnya hutan malam. Mereka melangkah lincah di antara akar-akar besar dan semak belukar, mengikuti kecepatan luar biasa Lynx yang bergerak nyaris tanpa suara.

Isha yang awalnya menikmati perjalanan di punggung Lynx, merasa senang seperti anak kecil yang sedang bermain. Ia tertawa kecil ketika angin malam menerpa wajahnya. Tapi tidak lama, matanya mulai berkunang-kunang. Kepala kecilnya terasa ringan, dan akhirnya ia menutup mata sambil bersandar lembut di punggung Lynx, tubuhnya diam dalam pelukan malam.

Lynx terus berlari tanpa memperlambat langkah. Tujuannya sudah dekat. Dalam beberapa napas, mereka tiba di sebuah lapangan luas yang tersembunyi di antara dua bukit kecil. Tanahnya rata dan bersih, dikelilingi batuan alami yang tersusun melingkar. Udara di tempat itu jauh lebih tenang dan terasa berbeda, seolah-olah ruang itu memang terpisah dari dunia luar.

Tempat itu adalah titik di mana gerbang menuju ruang dimensi berada. Lynx berhenti di salah satu batu besar dan menurunkan Isha perlahan, memastikan gadis kecil itu tetap dalam keadaan nyaman dan hangat. Sementara itu, Lala dan Jelita berdiri di belakangnya, memandang dengan rasa penasaran sekaligus cemas, menunggu penjelasan yang belum juga mereka terima.

Lynx berdiri tenang di tengah lapangan yang tenang itu, namun sorot matanya tampak muram. Angin malam membelai rambutnya pelan saat Lala memandangnya dengan ekspresi bingung bercampur penasaran.

"Kenapa kamu mengajak kami ke sini, Lynx?" tanya Lala dengan nada curiga namun lembut. Ia menatap sekeliling, lalu kembali menatap pria yang selalu ia andalkan itu. "Aku kira kamu akan membawaku menemui Leena dan yang lainnya. Bukankah kamu bilang mereka semua baik-baik saja?"

Lynx menggeleng perlahan. Wajahnya menunduk, dan untuk pertama kalinya, nada suaranya terdengar penuh beban dan keputusasaan. "Leena memang baik-baik saja," katanya lirih. "Tapi Kael, Arkha, Narendra, dan Karim... mereka terjebak di dalam ruang dimensi di tempat ini. Dan... kunci untuk membuka ruang itu sudah hancur. Kita tidak bisa menolong mereka."

Lala terdiam sesaat, matanya membelalak. Nafasnya tercekat. "Apa maksudmu, Lynx? Ruang dimensi apa yang kamu bicarakan?"

Lynx menarik napas dalam, lalu menatap mata Lala sejenak sebelum menjawab pelan, "Kamu ingat dimensi milik kerajaan Jinghai? Tempat di mana fragmen senjata iblis disembunyikan? Mereka masuk ke sana..."

"Apa?" Lala hampir berteriak. "Kerajaan Jinghai? Bagaimana mungkin mereka bisa masuk ke sana? Bukannya itu sudah tertutup rapat?"

"Aku juga tidak tahu," jawab Lynx pelan, wajahnya terlihat menyimpan banyak kegelisahan. "Tapi aku menangkap sinyal bantuan dari mereka dari dalam sana. Sayangnya, aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membuka kembali gerbang itu."

"Sepertinya belum waktunya aku memberi tahu mereka tentang Rira," batin Lynx sambil menahan desah napasnya. "Itu hanya akan membuat mereka makin cemas."

Mendengar itu, Jelita yang berdiri di samping Isha hanya menunduk. Tatapannya terarah pada rerumputan gelap di bawah kakinya. Meski hatinya ikut sedih, ia memilih untuk tidak bicara. Ia tahu, saat ini Lynx dan Lala sedang mencoba memahami situasi, dan ia tak ingin menambah beban.

Lala melangkah perlahan mendekati Lynx. Ia menatap artefak rusak yang kini dipegang oleh Lynx dan akhirnya berpindah ke tangannya. Tangannya menyentuh benda itu dengan hati-hati, seolah khawatir merusak sesuatu yang sudah rapuh.

"Apa kamu yakin... tidak ada solusi lain?" tanyanya pelan.

Lynx menggeleng lagi. "Leluhur Sekte Api Langit... juga para immortal dari kerajaan Jinghai sendiri, mereka sudah mengatakan hal yang sama. Tanpa kunci, mustahil membuka ruang dimensi itu. Jika memang bisa dibuka paksa, sejak lama para pemburu fragmen senjata iblis pasti sudah mencobanya."

Lala menghela napas panjang. Pandangannya menatap jauh ke depan seakan berbicara pada kegelapan malam. "Andai saja aku bisa mengambil peralatan penelitianku. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa mencoba mencari solusi."

Perkataan itu membuat Lynx dan Jelita saling berpandangan. Sorot mata mereka berubah. Sekilas, harapan kecil menyala di antara keputusasaan yang mencekam malam.

